RADAR MALANG-Minggu, 13 April 2008
Partai politik (parpol) yang tidak memenuhi syarat 15 persen suara atau 7 kursi dewan memang tidak bisa mendaftarkan langsung calonnya. Tapi, bukan berarti tidak bisa meramaikan pertarungan. Caranya lewat koalisi.
Sebut saja Partai Golkar dan Partai Amanat Nasional (PAN). Koalisi ini memiliki suara 19,09 persen dan bisa mengusung pasangan calon sendiri, yakni Aries Pudjangkoro (Golkar) dan Mohan Katelu (PAN). Duet ini bahkan sudah disosialisasikan sejak tahun lalu. Boleh dibilang, koalisi inilah yang paling berani muncul dan paling awal bergerilya.
Namun, koalisi kuning biru ini masih menghadapi kendala. Yakni belum turunnya rekomendasi dari DPW maupun DPP Golkar kepada Aries. Kepastian rekomendasi bakal diketahui publik usai rapimda (rapat pimpinan daerah) yang rencananya digelar akhir April nanti. “Kami optimis turun. Tunggu rapimda akhir April ini,” ungkap Sekretaris DPD Golkar Kota Malang Sofyan Edy Jarwoko.
Pujianto, sekretaris DPD PAN Kota Malang, menegaskan akan setia dengan Golkar. PAN bakal menunggu sampai rekomendasi dari Golkar untuk Aries turun. “Tidak ada rencana cadangan untuk berkoalisi dengan parpol lain. Kami optimis koalisi ini akan kuat sampai proses pencalonan dan pemilihan,” ujar Pujianto.
Koalisi kedua dikomandani Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Setelah menggandeng Partai Persatuan Pembangunan (PPP), PKS bergerak merangkul sejumlah parpol non parlemen yang tergabung dalam Barisan Arek Malang (BAM). Terdiri dari PNI Marhaenisme, PBB, PM, PPDK, PIB, PNBK, PKPI, PPDI, PPNUI, PBR, PSI, PPD dan Partai Pelopor.
Sebagai leader koalisi ini, PKS mengusung Achmad Subchan sebagai calon walikota Malang. Subchan dikenal sebagai kader PKS yang kini menjadi anggota DPRD Jatim.
Menurut Ahmad Azhar Moeslim, manajer pemenangan PKS, pasangan Subchan akan ditentukan dua hingga tiga minggu lagi. Mekanismenya lewat inventarisasi, survei, dan musyawarah bersama parpol koalisi. “Akan kami tentukan sebelum 1 Mei. Insya Allah koalisinya akan terus terbangun,” kata Azhar. (yos/ca)
